Hal-hal yang Seharusnya dilakukan Orangtua terhadap Anak Perempuan Ketika Memasuki Usia 9 Tahun

Rasulullah SAW bersabda “Pertimbangkan dan hormatilah hak anak perempuan yang masih kecil ini”

Satu hal sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap orangtua dan peara pendidik pada setiap fase dari pertumbuhan anak perempuan adalah sikap bijaksana terhadap setiap fase pertumbuhan yang dilewati oleh anak. Bentuk interaksi dan pendidikan terhadap anak perempuan yang berumur enam tahun misalnya, tentu berbeda dengan pendidikan anak perempuan yang telah menginjak usia sembilan tahun.

Sikap bijaksana seperti ini sangatlah penting dimiliki oleh setiap orangtua dan para pendidik, lebih-lebih jika anak perempuan mulai menginjak usia sembilan tahun atau lebih.  Hal ini perlu ditegaskan karena banyak orangtua yang mendidik dan berinteraksi dengan anak perempuannya yang telah berusia sembilan tahun seperti berinteraksi dengan anak yang masih kecil. Padahal menurut pandangan agama, anak perempuan yang telah memasuki usia sembilan tahun, berarti ia telah besar atau telah mulai memasuki usia akil baligh.

Sikap dan bentuk interaksi orangtua seperti ini, tentu sangat tidak bijaksana karena mereka tidak menghargai fase pertumbuhan seorang anak yang sebenarnya telah mulai menginjak dewasa, namun menganggapnya masih anak kecil. Disamping sikap yang kurang bijaksana seperti ini bisa menimbulkan dampak negatif terhadap jiwa dan kepribadian si anak, seperti selalu merasa rendah diri dan merasa dirinya kurang dibanding dengan yang lain, sikap seperti ini juga bisa menimbulkan dampak negatif terhadap perilakunya. Karena ia merasa kurang percaya diri akibat sikap orangtua yang menganggapnya masih anak kecil, akibatnya ia akan mencari seseorang yang mau menghargai dan menganggap dirinya sebagai seorang wanita dewasa, seseorang yang mampu memberinya rasa percaya diri, siapapun dia.

Kita bisa melihat bagaimana Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap anak perempuan yang mulai masuk ke dalam fase umur ini. Beliau memberikan contoh kepada setiap orangtua bagaimana harus bersikap terhadap anak perempuan di fase tersebut.

Aisyah RA meriwayatkan dan berkata “Ketika sebagian orang-orang Islam mulai berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), Abu Bakar bersiap-siap juga untuk berhijrah. Lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Tunggu dulu Abu Bakar, karena aku juga berharap diizinkan oleh Allah SWT untuk berhijrah,” Abu Bakar berkata “Wahai Rasulullah, apakah kamu menginginkan hal tersebut?” Beliau berkata, “Benar”. Lalu Abu Bakar pun tidak jadi pergi dan tetap bersama dengan Rasulullah SAW demi menemani beliau berhijrah nantinya.  Sebenarnya, jauh-jauh hari Abu Bakar telah mempersiapkan dua unta untuk digunakan berhijrah. Selama empat bulan lamanya Abu Bakar mempersiapkan dan memberi makan dua unta tersebut dengan daun as-Samr.

Aisyah berkata “Sehingga pada suatu siang, ketika kami sedang duduk-duduk di rumah Abu Bakar, seseorang berkata kepada Abu Bakar, “Lihat, Rasulullah SAW datang, tidak biasanya beliau berkunjung ke sini pada waktu seperti ini!” Abu Bakar berkata, “Sungguh, beliau tidak datang kesini pada saat saat seperti ini kecuali ada suatu perkara penting.” Lalu Rasulullah SAW pun sampai dan meminta izin, lalu setelah Abu Bakar memberi izin beliau masuk dan berkata kepada Abu Bakar, “Aku mohon, yang lain hendaknya disuruh keluar.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, mereka tidak lain adalah keluarga kamu sendiri.” Beliau berkata, ” Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk berhijrah.” Abu Bakar berkata, “Maksudnya kamu menginginkan agara saya menemanimu wahai Rasulullah?”  Beliau berkata,  “Benar, aku ingin kamu menemaniku berhijrah.” (HR Bukhari)

Yang ingin ditekankan dari kisah di atas adalah bagaimana Rasulullah SAW sepenuhnya percaya kepada kepribadian Aisyah sehingga beliau tidak khawatir berbicara di hadapannya tentang sebuah perkara yang sangat penting dan rahasia di dalam perjalanan sejarah kenabian, yaitu rencan hijrah. Padahal waktu itu Aisyah baru berumur 9 tahun. Tidak mungkin Rasulullah SAW membicarakan sesuatu yang sangat rahasia seperti ini di hadapan Aisyah, kecuali beliau benar-benar memang percaya penuh kepada kepribadiannya, percaya bahwa ia mampu menyimpan rahasia dan sepenuhnya percaya bahwa Aisyah memiliki ketabahan dan kekuatan dalam memegang kebenaran walau bagaimana pun besarnya bahaya yang mengancam dirinya.

Ada sebuah pertanyaan yang ingin diajukakn, “Dalam perjalanan sejarah dakwah, apakah pernah ada kejadian seorang anak perempuan yang masih kecil diberi kepercayaan sebesar ini kecuali hanya kepada Aisyah?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s